Catalytic Converter (katalisator) Alat Untuk Mengurangi Emisi Gas Buang Kendaraan bermotor
Catalytic Converter (katalisator) Alat Untuk Mengurangi Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor
A. Catalytic Converter (katalisator).
Catalytic
Converter atau katalisator adalah salah satu alat
untuk menekan dan mengendalikan gas emisi pada kendaraan. Catalytic Converter, selanjutnya disebut katalisator ini berfungsi
mereduksi sejumlah emisi yang dihasilkan pembakaran dari mesin.
Alat ini bekerja menggunakan katalis untuk
menstimulasikan reaksi kimia yang dihasilkan dari pembakaran yang dikonversikan
menjadi emisi yang tidak berbahaya. Contohnya karbon monoksida (CO) yang
berbahaya menjadi karbon dioksida CO2.
Pada kendaraan roda empat, katalisator
mampu mengubah karbon monoksida (CO), Hidro Carbon (HC) dan Nitrogen Oksida
(NOx) menjadi gas yang tidak berbahaya. Hasil uji emisi menjadi parameter yang valid.
Katalisator
bekerja pada temperatur 300 – 800ºC, mulai bekerja maksimum (100
%)
bila suhu pada katalis meningkat hingga 400ºC. Umur katalisator akan pendek
jika temperatur melebihi 800ºC.
Kendaraan yang dilengkapi katalisator perlu menggunakan bensin bebas timbal, karena timbal menempel pada permukaan katalis dan sensor oksigen (O2 sensor). Efek optimal tidak bisa didapatkan bila menggunakan bensin yang mengandung timbal.
Alumina atau zat katalis melapisi pola bergerigi monolitik yang berlubang-lubang. Zat berbahaya dimurnikan dengan dilewatkan melalui lubang-lubang tersebut. Tipe ini disebut monolitik, ada dua tipe monolit; tipe keramik dan logam. Semakin tipis geriginya, semakin bagus tingkat pemurniannya.
B. Bagian - Bagian Komponen Catalytic converter
1)
Inti katalis (substrate). Pengguventer antara lnaan katalisator pada
bidang otomotif biasanya menggunakan inti dari keramik monolit dengan struktur
sarang lebah (honeycomb). Monolit tersebut dilapisi oleh FeCrAl
pada beberapa aplikasi.
2) Waistcoat. Waistcoat adalah pembawa material katalis digunakan untuk menyebarkan katalis tersebut pada area yang luas sehingga katalis mudah bereaksi dengan gas buang. Washcoat biasanya terbuat dari aluminium oksida, titanium oksida, silikon oksida dan campuran silika dan alumina. Washcoat dibuat dengan permukaan agak kasar dan bentuk yang tidak biasa untuk memaksimalkan luas permukaan yang kontak dengan gas buang sehingga katalis dapat bekerja secara lebih efektif dan efisien.
3. Katalis. Katalis biasanya terbuat dari logam mulia. Platina adalah katalis yang paling aktif diantara logam mulia lainnya dan secara luas digunakan namun tidak cocok dengan segala aplikasi karena adanya rekasi tambahan yang tidak diinginkan serta harganya yang mahal. Palladium dan rhodium adalah jenis logam mulia lainnya yang biasa digunakan secara bersamaan. Palladium berfungsi sebagai katalis reaksi oksidasi, rhodium digunakan sebagai katalis reaksi reduksi
C. Prinsip dasar katalisator
Di dalam katalisator, terjadi proses oksidasi lanjutan secara
cepat pada suhu yang relatif rendah.
Ada bahan-bahan yang dapat memperlancar reaksi kimia,
tanpa bahan tersebut ikut bereaksi. Gejala ini disebut katalisa dan bahan-bahan
yang memperoleh efek tersebut katalisator.
Tipe katalisator ada 2 berdasarkan jumlah polutan yang dapat direaksi, yaitu:
1). Katalisator Oksidasi (Two way catalyst).
Gas CO dan HC direaksikan dengan O2 di dalam
katalisator sehingga menjadi gas CO2 dan H2O yang tidak
beracun. Namun ini perlu persyaratan yaitu harus menggunakan bensin tanpa timah
hitam untuk mencegah penutupan permukaan katalisator, temperatur katalisator
harus kurang lebih 500ºC dan dipasang dekat dengan saluran buang (manifold buang)
serta perlu penambahan O2 untuk melancarkan reaksi dalam
katalisator.
Adapun cara penambahan udara
dilakukan dengan cara sebagai berikut
a. Pompa Udara
b. Katup membran pulsair
Namun kedua
cara ini punya kerugian yaitu sering gangguan pada sistem penambahan
udara(pompa rusak, katup pulsair
rusak, jet udara tersumbat), gas NOx tidak dapat
direduksi.
Di dalam katalisator jenis oksidasi ini
terdapat 2 reaksi simultan :
·
Oksidasi karbon monoksida menjadi
karbon dioksida : 2CO + O2 —–> 2CO2
· Oksidasi senyawa hidrokarbon (yang tidak terbakar / terbakar parsial) menjadi karbon dioksida dan air : CxH2x+2 + [(3X+1)/2] O2 —–> xCO2
+ (x+1) H2O (reaksi pembakaran)
Proses
katalisa dijalankan tanpa penambahan udara, oksigen dilepas dari NOx
(terbentuk N2 dan O2),
kemudian langsung bereaksi dengan HC dan CO (terbentuk CO2 dan H2O)
Persyaratannya
sistem ini hanya bekerja dengan sempurna pada lamda = 1. Misal jika
perbandingan campuran kurus lamda < 1, terjadi sisa oksigen pada gas buang
. O2
ini cepat bereaksi dengan CO dan HC, akibatnya NOx tidak akan
direduksi dan tetap tertinggal
Untuk
menjamin lamda = 1 digunakan pengatur elektronik yang bekerja berdasarkan
perintah sensor oksigen O2 di saluran buang.
Rangkaian
skema katalisator diatas ini paling efisien dan jarang terjadi gangguan, namun
sistem pengapian perlu dirawat dengan baik, karena jika ada salah satu silinder
motor tidak hidup dengan baik, banyak campuran yang belum terbakar masuk ke
dalam katalisator. Akibatnya katalisator mencair akibat temperatur pembakaran
yang terlalu tinggi.
Di dalam converter jenis ini terdapat 3 reaksi simultan :
· Reaksi reduksi nitrogen oksida menjadi nitrogen dan oksigen : 2NOx —–> xO2 + N2
·
Reaksi oksidasi karbon monoksida
menjadi karbon dioksida : 2CO + O2 —–> 2CO2
· Reaksi oksidasi senyawa hidrokarbon
yang tidak terbakar menjadi karbon
dioksida dan air : CxH2x+2 + [(3x+1)/2]O2 → xCO2 + (x+1)H2O
Ketiga reaksi ini berlangsung paling efisien ketika campuran udara – bahan bakar (air to fuel ratio) mendekati ideal (stoikiometri) yaitu antara 14,6 – 14,8 berbanding1.
Oleh karena itu, katalisator sulit diaplikasikan pada mesin yang masih menggunakan karburator untuk pemasukan bahan bakar. katalisator paling ideal digunakan dengan mesin yang telah menggunakan closed loop feedback fuel injection.
Konstruksi Katalisator
Katalisator
ditempatkan di belakang saluran buang (exhaust
manifold) atau diantara muffler dengan
header. Alasannya, katalisator cepat panas ketika mesin dinyalakan. Selain itu,
sensor bisa segera bekerja untuk menginformasikan kebutuhan campuran bahan
bakar udara yang tepat ke Engine Control
Machine (ECM). Katalisator ini baru bekerja efektif ketika kondisinya
panas.
Setiap
mobil memiliki jumlah alat sensor yang berbeda, bergantung pada kebutuhan dan
teknologi mesinnya. Umumnya mobil injeksi menggunakan dua sensor oksigen yang
berbeda tempat.
Ketika sensor oksigen, misalnya, mendeteksi temperatur gas buang terlalu tinggi akibat jumlah bahan bakar yang sedikit dibandingkan udara, maka air-fuel ratio (AFR) menjadi "miskin". Informasi inilah yang akan diteruskan ke ECM. ECM pun segera bekerja melakukan penyetelan ulang komposisi bahan bakar dan udara sehingga proses pembakaran menjadi ideal.
Pipa buang adalah pipa baja yang mengalirkan gas sisa
pembakaran dari exhaust
manifold ke udara bebas. Konstruksinya dibagi menjadi beberapa
bagian, yaitu pipa bagian depan, tengah, dan belakang.
Susunannya sengaja dibuat demikian untuk mempermudah saat penggantian
katalisator atau muffler,
tanpa perlu melepas keseluruhan konstruksi sistem pembuangan.
Muffler berfungsi
untuk mengurangi tekanan dan mendinginkan gas sisa pembakaran. Ini karena gas
sisa pembakaran yang dikeluarkan dari mesin memiliki tekanan cukup tinggi,
sekira 3 hingga 5 kg/cm2. Sedangkan suhunya bisa mencapai 600 hingga 800
derajat Celsius. Besaran panas ini kira-kira 34% dari energi panas yang
dihasilkan mesin.
Kalau gas ini langsung disalurkan ke udara luar tanpa muffler, gas akan mengembang dengan cepat diiringi dengan suara ledakan yang cukup keras
Sumber ( Modul Emisi Gas Buang Hal ( 24 )
Katalisator telah terbukti memiliki manfaat untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor. Namun, katalisator ternyata tetap memiliki beberapa efek pada lingkungan:
· Katalisator
tidak mereduksi jumlah CO2 yang dihasilkan bahan bakar bahkan mengubah CO
menjadi CO2. Padahal telah kita ketahui bersama bahwa CO2 ditengarai menjadi
penyebab utama greenhouse effect
(efek rumah kaca) yang mengakibatkan pemanasan global diseluruh
dunia. Bahkan katalisator juga melepas N2O yang ternyata setelah diteliti 3
kali lebih besar efeknya dibandingkan CO2. EPA (Environmental Protection Agency), badan lingkungan hidup Amerika
Serikat mencatat bahwa 3 % emisi nitrogen oksida dihasilkan oleh kendaraan bermotor.
· Air to fuel ratio kendaraan harus senantiasa pada kondisi stoikiometri saat penggunaan katalisator. Akibatnya kadar CO2 yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan mesin dengan campuran miskin (lean burn engine).
katalisator membutuhkan logam mulia palladium dan rhodium. Salah satu pensuplai logam mulia ini adalah daerah industri Norilsk, Rusia. Ternyata industri untuk mengekstrak palladium dan rhodium tersebut mengasilkan polusi yang paling besar dibandingkan industri lainnya

Post a Comment for "Catalytic Converter (katalisator) Alat Untuk Mengurangi Emisi Gas Buang Kendaraan bermotor"